SOE, 31 Agustus 2026 — Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menggelar kegiatan Napak Tilas Perpindahan Pusat Pemerintahan dari O’bessi ke Kota Soe, Senin (31/8/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang sekaligus menghidupkan kembali perjalanan sejarah terbentuknya Kota Soe sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Kegiatan napak tilas tersebut diikuti oleh Bupati Timor Tengah Selatan Eduard Markus Lioe, S.IP., S.H., M.H., Wakil Bupati TTS, jajaran Forkopimda, pimpinan dan jajaran OPD, para Tua Adat, Tokoh Agama, pelajar, serta seluruh ASN Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Napak tilas dimulai dari wilayah O’bessi/Kapan, yang merupakan salah satu titik penting dalam perjalanan sejarah pemerintahan di Timor Tengah Selatan, sebelum kemudian pusat pemerintahan berpindah ke Kota Soe.
Dalam perjalanan tersebut, rombongan mengunjungi sejumlah lokasi yang memiliki nilai sejarah, antara lain Embun Mollo, yang merupakan bekas Kantor Pemerintahan Belanda; Puskesmas Kapan Lama, yang sebelumnya menjadi Kantor dan Rumah Controleur Mr. Tellep pada periode 1912–1922; serta rumah Bapak Pieter Oematan, BA, yang memiliki keterkaitan sejarah sebagai bekas tangsi atau asrama Polisi Belanda.
Perpindahan Pusat Pemerintahan ke Soe
Perjalanan sejarah mencatat bahwa pusat pemerintahan kemudian dipindahkan dari O’bessi ke Soe pada tahun 1919 karena pertimbangan lokasi yang dinilai kurang strategis.
Setelah berpindah ke Soe, sejumlah bangunan yang berada di kawasan Kota Soe menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah pemerintahan dan kehidupan masyarakat TTS.
Salah satunya adalah lokasi yang kini menjadi Rumah Jabatan Wakil Bupati TTS, yang pada masa lalu berkaitan dengan rumah dinas sekaligus kantor Mr. Tellep. Selain itu, keberadaan bekas asrama Polisi/Tentara Belanda juga menjadi bagian dari jejak sejarah perkembangan pemerintahan dan keamanan di wilayah tersebut.
Bupati Timor Tengah Selatan Eduard Markus Lioe mengatakan bahwa kegiatan napak tilas tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan menelusuri kembali jalur perjalanan masa lalu, tetapi juga sebagai upaya untuk mengingat dan memahami sejarah perjalanan daerah.
“Napak tilas ini bukan sekadar menelusuri jalur lama. Ini adalah bagian dari upaya kita untuk menghidupkan kembali sejarah dan memahami bagaimana Soe kemudian tumbuh menjadi pusat pemerintahan Timor Tengah Selatan,” ujar Bupati.
Menurut Bupati, sejarah merupakan bagian penting dari identitas daerah yang perlu diketahui dan diwariskan kepada generasi muda. Dengan memahami perjalanan sejarah, generasi penerus diharapkan memiliki rasa bangga terhadap daerah sekaligus memperoleh inspirasi untuk terus membangun TTS.
Sejarah Menjadi Inspirasi Pembangunan
Bupati menegaskan bahwa perjalanan panjang sejarah pemerintahan TTS hendaknya menjadi sumber inspirasi untuk membangun daerah yang lebih maju, mandiri dan sejahtera.
Kegiatan napak tilas juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antara pemerintah daerah, masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, generasi muda, serta seluruh elemen masyarakat.
Kehadiran para pelajar dalam kegiatan tersebut dinilai penting sebagai bagian dari proses pembelajaran sejarah secara langsung. Para generasi muda tidak hanya mengenal sejarah melalui buku, tetapi juga dapat melihat dan menyusuri secara langsung tempat-tempat yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah daerah.
“Jejak sejarah yang kita telusuri hari ini harus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus melangkah ke depan. Kita belajar dari masa lalu, membangun hari ini, dan menyiapkan masa depan TTS yang lebih baik,” ungkap Bupati.
Napak Tilas Dirangkai dengan Solidaritas untuk Flores
Selain mengenang sejarah perjalanan pemerintahan, kegiatan napak tilas tersebut juga dirangkaikan dengan aksi solidaritas kemanusiaan untuk masyarakat Pulau Flores yang terdampak bencana gempa bumi.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan melepas dua truk bantuan kemanusiaan yang akan dikirimkan bagi masyarakat korban bencana gempa di Flores.
Aksi solidaritas tersebut juga mendapat dukungan dari para guru se-Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam kegiatan tersebut, Perkumpulan Guru se-Kabupaten TTS menyerahkan bantuan sebesar Rp152 juta yang diperuntukkan bagi mendukung pemulihan sektor pendidikan di Flores pascabencana.
Bupati menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terus menunjukkan kepedulian terhadap saudara-saudara di Flores.
“Di tengah kegiatan napak tilas sejarah ini, kita juga menunjukkan bahwa sejarah persaudaraan dan solidaritas kita sebagai sesama masyarakat Nusa Tenggara Timur harus terus hidup. Duka saudara-saudara kita di Flores adalah duka kita bersama,” kata Bupati.
Menurutnya, bantuan tersebut merupakan wujud nyata kepedulian masyarakat TTS sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong dan persaudaraan tetap menjadi kekuatan masyarakat Nusa Tenggara Timur dalam menghadapi berbagai tantangan dan bencana.
Bupati berharap bantuan yang disalurkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat terdampak, khususnya dalam mendukung pemulihan kebutuhan dasar dan pendidikan.
Merawat Sejarah, Memperkuat Persaudaraan
Rangkaian kegiatan napak tilas tersebut menjadi momentum untuk mempertemukan dua pesan penting, yakni merawat sejarah daerah dan memperkuat solidaritas kemanusiaan.
Bupati menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir, berpartisipasi, dan memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah hadir, berpartisipasi dan peduli. Semoga jejak sejarah yang kita telusuri hari ini menginspirasi kita untuk terus membangun TTS yang maju, mandiri dan sejahtera, serta tetap saling peduli di tengah duka saudara-saudara kita,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan berharap kesadaran sejarah, semangat persatuan, gotong royong, dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh di tengah masyarakat.
Dari O’bessi menuju Soe, kita mengenang sejarah. Dari TTS untuk Flores, kita merawat persaudaraan. Bersama melangkah membangun Timor Tengah Selatan yang maju, mandiri dan sejahtera. (*kominfo)