DISKOMINFO– Pemerintah Kabupaten TTS melalui Dinas Pertanian mengundang Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman untuk melakukan panen raya jagung di Desa Abi, Kecamatan Oenino di lahan seluas 50 Ha. Sesuai hasil komunikasi dengan pihak Kementerian Pertanian, direncanakan panen raya tersebut akan berlangsung sekitar tanggal 10 sampai 13 April sesuai waktu yang dimiliki Menteri Amran. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian Otniel Neonane kepada wartawan, Rabu ( 28/3) di ruang kerjanya.

Ia mengatakan, belum lama ini dirinya bersama Bupati TTS telah bertemu dengan pihak kementerian pertanian terkait panen raya jagung di Desa Abi. Setelah komunikasi tersebut, pihak Dinas Pertanian mengirim surat undangan untuk menteri pertanian guna melakukan meluangkan waktu untuk melakukan panen raya di Desa Abi. “Kita sudah bangun komunikasi baik secara langsung maupun bersurat untuk mengundang pak Menteri guna melakukan panen raya jagung di Desa Abi. Kita berharap pak Menteri bisa hadir di acara panen raya jagung tersebut nantinya. Jika pak menteri tidak bisa hadir, tentunya akan ada perwakilan dari pihak Kementerian pertanian yang akan hadir,” ungkap Otniel.

Ia menjelaskan, sengaja mengundang Menteri Amran untuk menghadiri acara panen raya jagung di Desa Abi karena benih jagung yang ditanam merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian. Oleh sebab itu, dirinya ingin menunjukan kepada Menteri Amran jika bantuan yang diberikan dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat untuk mendukung ketahanan pangan.
“Benih yang ditanam merupakan benih jagung hibrida dan komposit yang merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian. Sedangkan untuk olah lahan dan pupuk, merupakan bantuan APBD II,” jelasnya.

Ketika ditanyakan terkait hasil ubinan jagung di Desa Abi, Otniel mengatakan, satu Hektar lahan bisa menghasilkan hingga 8 ton jagung. Saat ini para petani bersama PPL sedang mempersiapkan lahan jagung tersebut untuk panen raya jagung. “Hasil jagungnya sangat bagus, ini karena sebelum ditanam lahan masyarakat diolah terlebih dahulu. Penggunaan benih dan pupuk membuat hasil tahun ini sangat baik,” sebutnya.

Ketika ditanyakan terkait hasil panen jagung di daerah Mollo yang kurang baik, Otniel tak membantahnya. Ia menjelaskan, hasil panen jagung di daerah Mollo kurang baik karena curah hujan yang terlalu tinggi dan perlakuan petani yang kurang. Untuk jagung lokal, tahun ini hasil ubinan menunjukan adanya peningkatan hasil panen. Dari 2,5 ton per Hektar di tahun 2017, naik menjadi 4 ton di tahun 2018.
“Untuk daerah Mollo memang curah hujanya terlalu tinggi sehingga mempengaruhi pertumbuhan jagung. Tetapi daerah lain di TTS curah hujanya bagus sehingga meningkatkan hasil panen jagung tahun ini,” pungkasnya. (*)

Komentar Anda

Silahkan tinggalkan komentar



Berita Umum ini ditulis pada 03 April 2018 oleh admin