Melakukan pendataan jumlah pekerja anak dan anak putus sekolah dari tingkat desa sampai tingkat Kabupaten, melatih kaum muda tingkat desa sampai kabupaten sebagai pekerja sosial untuk menanggulangi masalah pekerja anak dan melakukan pelatihan kewirausahan kepada kaum muda, mendorong pemerintah desa membuat perdes tentang perlindungan anak serta pemerintah desa harus berperan aktif dalam upaya mencegah terjadinya penipuan usia anak dalam administrasi kependudukan anak yang akan bekerja ke luar negeri maupun luar daerah dan memberikan sanksi tegas terhadap semua pihak yang terlibat dalam penipuan sehingga anak menjadi pekerja anak termasuk sanksi positif terhadap anak berupa bimbingan khusus.

Demikian beberapa butir rekomendasi dari 14 butir rekomendasi yang dihasilkan dalam rapat koordinasi sehari, dengan topik TTS tanpa pekerja anak, kegiatan sehari menjadi Bupati TTS yang digelar di ruang rapat Bupati Timor Tengah Selatan, Senin (24/10/2016).

Anak perempuan masih sering menghadapi berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi dan cenderung kurang mendapat akses pendidikan. Menurut Bupati Mella, masih ada orang tua yang beranggapan bahwa anak perempuan tidak perlu bersekolah tinggi karena nantinya anak perempuan akan menjadi istri orang dan mengurus suami serta rumah tangganya. Terkadang anak menjadi pekerja utama dalam keluarga karena anak wajib mengabdi kepada orang tua akhirnya anak bekerja diluar kemampuannya dan tidak diberikan kesempatan untuk menutut ilmu.

“Kondisi ini mendorong anak-anak TTS untuk bicara tentang pekerja anak dan penting untuk memberikan kesempatan kepada anak menjadi pemimpin,” ujar Bupati Mella.

Menjadi pekerja anak dapat menghambat pertumbuhan anak. Anak tidak mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan bekerja dengan pendidikan yang tidak memadai. Sehingga penting untuk melakukan pengurangan pekerja anak. Fenomena pekerja anak didiskusikan oleh anak-anak dan menjadi informasi penting yang di kampanye oleh teman sebaya, menuju TTS tanpa pekerja anak.

Bupati Mella menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan oleh Plan Internasional tersebut dalam rangka perayaan hari anak perempuan internasional dan gerakan because i am a girl. Kegiatan sehari menjadi Bupati TTS diikuti oleh 10 anak , dibantu oleh 7 anak komite muda yang berasal dari Kabupaten TTS dan Kabupaten TTU.

Kegiatan sehari menjadi Bupati TTS, anak-anak berhasil membuat 14 rekomendasi yang telah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaen Timor Tengah Selatan oleh Bupati TTS sehari atas nama Yuniarty Sayang Makh, siswa SMA Negeri 1 SoE. “Rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pimpinan SKPD,” ujar Bupati Mella

Perwakilan Plan Internasional Indonesia area Timor, Ida Aduh mengatakan tujuan kegiatan tersebut adalah untuk mempromosikan pemehuhan hak anak perempuan, kesetaraan serta keadilan gender dalam konteks Indonesia, memberikan kesempatan bagi anak perempuan untuk belajar, memimpin, mengambil keputusan dan tumbuh mencapai potensi maksimal melalui aksi goal leadership.

Menurut Ida Aduh, pesan kunci yang ingin disampaikan dalam kegiatan tersebut yakni semua anak perempuan berhak mendapatkan pendidikan berkualitas, semua anak perempuan berhak untuk merasa aman dan terlindungi mulai dari lingkungan terkecil di rumah bersama orang tua, di sekolah serta dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, anak perempuan berhak untuk berpartisipasi yang berarti dalam setiap pengambilan keputusan terutama yang menyangkut masa depan atau berdampak pada kehidupan anak peremuan, anak perempuan dapat berpartisipasi dan melakukan aksi untuk mencapai target sustainable development goals terutama pencapaian target yang berkaitan dengan pemenuhan hak anak.

Untuk tingkat Nasional, even sehari menjadi menteri dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober bertepatan dengan hari anak perempuan Internasional. 2 anak TTS terpilih mengikuti even tersebut atas nama Priskila Mariana, siswa SMK Negeri 2 SoE terpilih menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dan Rian. R. Rihi, siswa SMA Negeri 1 SoE terpilih menjadi pelaksana Dirjen Pembinaan, Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 pada Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigarsi Republik Indonesia. Sementara untuk even ditingkat Provinsi yakni sehari menjadi Gubernur NTT, peserta dari Kabupaten TTS, Wilem Lake, siswa SMA Negeri 1 SoE terpilih menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT. sumber (humaspro setda tts)

Komentar Anda

Silahkan tinggalkan komentar



Berita Umum ini ditulis pada 22 November 2016 oleh admin