Layanan PAUD masih belum tersedia disejumlah desa di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Berdasarkan data pokok pendidikan yang diterbitkan oleh pusat data statistik pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015, menyebutkan dari 3.213 desa yang ada di Provinsi NTT baru 2.034 desa (63,31%) yang sudah ada PAUD sementara 1.179 desa (36,39 %) belum tersedia layanan PAUD. Hal ini akan menimbulkan kesenjangan dalam pencapaian angka partisipasi kasar (APK) dari masing-masing kabupaten/kota se Provinsi NTT.

Momentum peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-51 tingkat Provinsi NTT yang dirangkaikan dengan berbagai kegiatan termasuk lomba pendidik PAUD dan pengelola PAUD, merupakan momentum yang sangat tepat untuk menggugah nurani kita, untuk terus bersinergi melakukan percepatan dalam rangka mendorong dan membangun komunitas pendidikan, semangat dan motivasi anak usia dini, orang tua dan seluruh lembaga pendidikan baik formal maupun non formal di Provinsi NTT untuk terus mengembangkan dan memperluas akses pendidikan anak usia dini pada seluruh pelosok desa yang tersebar di Provinsi NTT, sebagai pilar utama pembentukan watak dan kepribadian anak flobamorata.

Hal tersebut disampaikan Bunda PAUD Provinsi NTT, Lusia Adinda Lebu Raya, S.Pd, M.M, dalam acara Pencanangan gerakan sadar PAUD menuju satu desa satu PAUD dan penutupan Hari Aksara Internasional ke–51 tingkat Provinsi NTT di GOR Nekmese SoE, Jumat (28/10/2016)

Tujuan kegiatan ini, menurut Bunda PAUD Provinsi NTT, selain untuk membangun kesadaran masyarakat dan kita semua tentang betapa pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai pilar utama menuju terwujudnya generasi emas, tetapi juga bertujuan untuk membangun komunitas dan komunikasi antar pembina pendidik (pemerintah dan stakeholder), satuan penyelenggara pendidikan anak usia dini, guru PAUD dan orang tua serta masyarakat. Ini berarti bahwa tanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak, baik pada tingkat PAUD, tingkat pendidikan dasar dan menengah tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua semata tetapi juga menjadi tanggung jawab pemerintah dan seluruh komponen masyarakat.

Dengan demikian sangat dibutuhkan peran serta dari seluruh komponen pendidikan baik dari keluarga, orang tua dan masyarakat, organisasi mitra termasuk PKK serta LSM, stakeholder dan seluruh pemangku kepentingan dan pemerhati pendidikan, serta seluruh penyelenggara satuan pendidikan baik formal maupun non formal di daerah ini, untuk meletakkan dasar dan landasan pendidikan yang kuat dan kokoh untuk selanjutnya dikembangkan secara sistematis, terarah dan terencana oleh setiap pengambil keputusan untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Dan salah satunya adalah melalui lembaga pendidikan anak usia dini sebagai lokomotif pembentukan sumber daya manusia yang handal, yang tidak hanya mengedepankan aspek kecerdasan intelektual semata, tetapi juga pembentukan watak, moral dan budi pekerti.

“Selaku Bunda PAUD Provinsi NTT, saya menyampaikan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah kabupaten TTS, Pemerintah Provinsi NTT serta seluruh jajaran yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para Bunda PAUD Kabupaten/Kota, orang tua, pengelola PAUD dan pendidikan PAUD yang telah turut mengabil bagian dalam mendampingi anak-anakku sekalian dalam mengikuti kegiatan pencanangan gerakan sadar PAUD menuju satu Desa satu PAUD. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa selalu mengiringi langka perjalanan anak-anakku sekalian dalam menggapai masa depan yang lebih baik. Jadilah anak NTT yang sehat, cerdas dan ceria,”ujar Lusia Adinda Lebu Raya. sumber(humaspro setda tts)

Komentar Anda

Silahkan tinggalkan komentar



Berita Umum ini ditulis pada 22 November 2016 oleh admin